ASU KABEH
Yang Indah?
Permalaikat, permanusia, persetan dengan siapa kau berpeluk cumbu !
semua yang indah suatu saat akan mati terbantai takdir
semua yang warna - warni
semua yang senang kupandangi
jadi aku duduk dan nyanyi - nyanyi saja sebisaku
semua kembang akan layu
semua puisi akan klise seperti sajak - sajak melayu
selagi segar dahaga di dada
dan senja merah merona
kunikmati pemandangan itu nona
pemandangan padang lapang di bola matamu
dan kontras auramu dengan dunia
kutatapi yang indah - indah
selagi takdir ramah
kunikmati jadi puisi yang se nikmat mungkin
kuawasi selebar langit dan angkasa
tiap senti
di semua sudutnya
yang indah - indah
nada dan senandung seakan berbunyi
pada kau dan segala tipu dayamu
yang indah - indah
pemandangan akan di kau nona
Di Bawah Langit Semarang
Dibawah langit Semarang kita memulai cerita
Berbeda rasa disuatu pagi yang sama
Bising motor menjadi musik pembuka
Awal dari hari yg indah medan lebur penuh nestapa
Tutup mata tuli telinga
Halalkan keji tuk makan satu keluarga
Layaknya dongeng abadi sang putri
Tunggu pangeran tampan berkuda putih
Dalam puri seribu tanya tanpa usaha tanpa rahasia
Sang pangeran pun tiba dengan wajah bersahaja
Diatas mayat ratu dan naga
Tersenyum
Luapan bahagia
Omong kosong!
Ini realita tempat penguasa tanpa celana
Apa beda babi dengan manusia?
Rakus habis semua yang ada
Tuk puasi nafsu belantara
Seperti rindu bukan untukmu
Sehalus sepi dalam sunyi
Sekosong hitam tanda kehampaan
Bersatu biaskan haru
Kilauan angin hanyutkan ku pergi
Dalam pencarian warna emosi
Bergumam debu jalanan
Berteman dengan wangi selokan
Kunikmati setetes harapan
Malam menyapa bumi
Waktu kita tuk kembali
Tempat kita saling berbagi
Dari serakahnya ilusi dalam sebuah siluet mimpi
Dibawah langit Semarang kita akhiri cerita ini.
REPUBLIK NGACENGAN
Sungguh kami telah kehabisan kata-kata keadilan
Keadilan di mana nama Tuhan selalu diucapkan setiap sidang
Kamipun telah kehabisan cerita-cerita kebenaran
Ketika hukum hanya di jadikan transaksi politik murahan
Ayat ayat keadilan hanya tajam menghukum ke tak berpunya
tetapi tumpul menghadapi sang Penguasa
Apa lagi yang akan kami ceritakan ke anak cucu kami?
Bahwa setiap anak menanggung hutang 9 juta rupiah begitu dilahirkan?
Bahwa sumber daya alam telah habis dikuras perusahaan?
atau cerita bahwa kami hanyalah pengangguran karena negara kami telah digadaikan?
Jangan bilang kami buat kemacetan
Karena ini cara pemberontakan
Bahkan kami pun di beri hadiah pukulan atas nama ketertiban
Karena elit kami sibuk pencitraan
Karena elit kami sibuk menabuh genderang perang
NEGERI PARA BEDEBAH
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
GADISKU
ketika nafasmu begitu berat untuk masa lalu
ketika keningmu berdarah untuk sesal terlampau
ketika jijik dengus nadi dunia yang kau cibir untuk setiap kematian durjana haru.
Wahai kau gadis yang kucintai dahulu,
begitu lihai kau memainkan pisau sirkus rakus melahap semua jilatan hangus.
Hingga aku jatuh terjembab cinta busuk yang aku sesali dalam setiap detik mustajab.
Kau buat aku kepayang melayang merasuk hilang dalam cinta yang kau rajang dan taburkan untuk setiap helai benang perasaan yang terang temarang.
Hingga sulit bagiku membedakan betapa indah fantasi basi dan pahit nyata dalam tiap bait,
aku rusak dalam belanga hingga sampai ringan ungkapkan bahwa aku cinta padamu dalam angan dan harapan.
Kau bawa aku terbang tembus batasan terang yang kau kuasakan untuk kunikmati walau sekedar membuat berang,
sampai setelahnya kau buang aku kedalam kenistaan bahwa kau tidak ingin dan tidak akan mungkin bersamaku atas alasan kehendakmu.
Sekarang,
aku menemukan kehidupanku sendiri.
Bersama wanita lain yang sungguh berani tanpa ada kepalsuan nyata ataupun tersirat menggema.
Silahkan nikmati karmamu,
mengemislah untuk belas kasih yang sampai kapanpun tak akan kau dapatkan !
Aku bahagia bersama wanitaku,
dan kau mati bersama kebusukanmu.
Mampus ! Untukmu dan semua kebohonganmu
dan selamat untukku yang tertawa riang girang menantang halang untuk kuasaku pada kesakitanmu !.
Putus Asa
sejauh mana putus asa kita
sejauh mana bisa putus
seputus apa?
sampai kiamat makin dekat ke urat leher?
sampai lelumpuh itu mati di kanal hitam
ditengah berbagai kenalpot dan melati dan mawar yang wara wiri?
orang - orang yang tergesa - gesa itu adalah kita
batu dan tanah yang bernapas
tidak tuli, tidak bisu, tidak buta
tidak peduli
makhluk - makhluk jahanam yang penyayang keluarga dan cita - citanya setinggi langit
cacing kremi yang optimis dan pesimis
bercampur dan bercinta dalam keringat penat dan uap - uap aspal
ekonomi gedung tinggi
sejahtera maya yang meracuni sungai - sungai ibu pertiwi dengan tai dan polusi
sedang aku memikirkan senggama denganmu di tengah reruntuhan majapahit dan sriwijaya
sambil menanti sang piningit tiba.
𝗞anal Hitam
Kanal-kanal di pinggir aspal mengajari tentang tawakal
Menganga lebar
Menerima kuning tahi mereka
Menelan botol-botol aqua
Bertasbih menunggu negeri penuh keparat ini merdeka
Mengarang teks proklamasi baru yang akan menghujami keparat menjadi abu
Apalagi?
Kanal-kanal di pinggir aspal
Mengalirkan hitamnya ke pinggir rumah para ibu-ibu
Apa yang kau lihat dari balik jendela mercy hitammu?
Apalagi?
Kanal-kanal di pinggir aspal diperkosa
Para gelandangan yang biasa tinggal di hotel-hotel bengal
Tempat muncrat semua syahwat
Dan mengalir segala nikmat
Apalagi?
Kanal-kanal belajar tentang tawakal
Dan tak lagi peduli
Tentang apa yang terjadi
Di negeri ini kanal-kanal tak pernah diakui
Mereka selalu dikencingi
Di beri janji-janji tentang air jernih nan murni
Lalu kembali dikencingi.
19+
aku
adalah berhala
yang kupuja dan kuagung - agungkan di depan kaca
berhala bertopeng 100 lapis
dengan segala palsu segala benar
bisa menghina dan bersinis pada semua karna aku tenar
berpedang cemburu dan dengki
gagah berdiri
siap menghina yang tak kusuka
berperang melawan nyata
menyusun sendiri teks proklamasi, deklarasi
lalu ngaku merdeka
biar bisa menghina mereka yang masih dijajah
yang tolol - tolol dan tak sekeren saya
aku adalah idola
kenapa?
karena aku merdeka, dan tak mau dijajah orang tua, dijajah mereka - mereka
aku adalah idola karena aku idola
dan aku cuma memuja
berhala yang lebih dulu merdeka
Tuhan yang keren dan banyak mampunya
lebih mampu dari saya
kalian inlander pergi mati saja.
Fanaku
Searus sungai sempurna terpampang
Dimana setiap matahari terbenam, engkau selalu berenang
Telanjang
Dan cintaku bebas memandang
Hingga senja rawang
Di fana-fanaku
Segenggam danau dendam
Penuh kerikil-kerikil ruam
Menjahit asaku bisu! Harus terdiam!
Pedulikah engkau
Anggrekku
Searus sungai tak pernah berhenti mengalir dari ujung hilir kelopak mataku
Sejak kau hempaskan badai pengkhianatanmu
The Thought of Die Hard Fans
yang bisa kuidamkan darimu
potongan rok kecil yang pendek dan lucu
di pinggul menggantung paha idolaku
adalah saat kau berayun
tertiup angin berhembus
mengepak bak sayap peri yang melambai pelan
mengungkap apa - apa yang rahasia
menyingkap yang tersembunyi di lipatan sunyi
yang kudambakan darimu
potongan rok kecil yang pendek dan lucu
saat suatu waktu kau lepas dari tuanmu.
SANG BAJINGAN
akulah pasir
butir yang hanyut terbawa air
menuju laut terombang - ambing larut dalam arus sungai kehidupan
terkutuklah segala kebaikan
dan segala keindahan yang mengikatku
terberkahilah segala kebaikan dan keindahan yang mengikatku
ikutlah hanyut bersamaku mengarungi lantunan waktu
akulah sang bajingan
cuma bukan siapa - siapa yang bukan apa - apa
mencoba bertapa di tengah hati yang terluka
tepat di borok yang ternganga
dicambuk memori - memori indah yang kusyukuri dan menyiksa
dan kasih yang tak terlihat tapi nyata
akulah keberadaan yang sederhana
menjalani sepoi angin masa, sajak demi sajak
berdiri di bukit yang makin terjal dan gersang saja
mencoba menjaga zamrud tua yang kian retak
bersujud bermandi arak
Ibu Pertiwi?
Semburat menyadarkan aku dari lamunanku
Bergegas maniti kali
Mengejar waktu hingga di titian sana
Bersua dengan sahabatku
Bercerita perihal wak haji yang berkeinginan menikah lagi
Kudengar di layar kaca
Seorang eyang menaruh banyak istri
Yang banyak istri menaruh harta korupsi
Harta korupsi dibagi-bagi atau dimakan sendiri
Kulihat dengan mata telanjang
Para penari berlenggak lenggok
Di karpet merah yang terhampar
Para pesohor memamerkan lekuk, sepatu, dan berupa-rupa anting
Oh… si penjual minyak keliling tak berkeinginan kalah
Gayanya flamboyan
Meniru gerak angin
Langkahnya pasti
Pasti bulan depan tersandung hutang lagi
Kata orang negeri ini bagai peri menawan
Sayapnya emas, tubuhnya penuh kilauan yang meyilaukan
Berjejer dari Sabang hingga Merauke
Menjadi pemantik kedatangan orang untuk berkenalan
Paradoks
Sekarang buah hati bangsa tak lagi perduli
Mereka cuma mementingkan diri sendiri
Tidak berkeinginan lagi berkahwan dengan pribumi
Gayanya kebarat-baratan
Meniru tarian kuda
Bahkan terang-terangan menghina adat istiadat sendiri
Tengoklah itu
Mereka tak lagi hidup sederhana
Mereka tak perduli lagi akan kesantunan bangsa
Jikalau sudah seperti ini
Tidak perlu nanti mereka menjerit-jerit ketika warisan bangsa diakui oleh negara lain
Tidak perlu
Karena ketika ibu pertiwi sudah menangis
Mereka tak perlu mencium kakinya
Tidak perlu meminta maaf
Karena adat istiadat sudah terkikis
Oleh deburan kesombongan, keegoisan
Mungkin saja
Kita tengah menunggu
Menunggu sebuah kehancuran
Fajarmu Senjaku
Kiamat perpisahan
Kesementaraan
Aku memperkosa langit
Abu-Abu
Teman?
halo, ingat aku?
seorang 'teman' yang datang saat kau terlelap
mengendap-endap, tak ingin diperhatikan
yaa, mungkin kau lupa,
karena saat ku tiba, matamu terpejam
benarkah kau lupa?,
saat suara - suara dengkur mu ku bungkam
aku yakin, kau pasti lupa,
air liur mu yang membuat kasurnya semakin kusam
membosankan, mengapa kau tak bangun saja?
hibur 'teman' mu ini dengan cerita2 indah saat kau terjaga
sejujur nya, aku kesepian
melihatmu terlelap lepas dibuai nikmatnya kasur angkasa
membosankan, seakan2 berbicara dengan telapak tangan
ya sudahlah, percuma tertawa
tak ada teman
percuma menyapa
tidak dianggap teman
percuma, percuma.
oh pagi datang, saat nya ku pulang
cepat bangun teman, tapi sayang
besok malam, aku tak akan datang.
Komentar
Posting Komentar